Semarang (18/5/2026) – Di tengah pesatnya arus informasi saat ini, kemampuan seseorang utamanya remaja dalam menyaring informasi yang valid tentu menjadi tantangan besar. Paparan berita bohong (hoax) dan ancaman keamanan digital terus mengintai berbagai pengguna aktif media digital, tidak terkecuali para pelajar yang masih kurang dibekali kecakapan literasi yang mumpuni. Sebagai langkah konkret untuk menanggulangi hal tersebut, tim pengabdian masyarakat Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro kembali menggelar kegiatan pendampingan dengan tema ‘Literasi Digital’ di SMPN 21 Semarang. Kegiatan tersebut dirancang sebagai bentuk upaya preventif dalam membentuk remaja yang lebih cerdas dan cakap di ruang digital.

Acara pengabdian masyarakat tersebut belangsung di ruang lab komputer yang diikuti oleh perwakilah siswa/i SMPN 21 Semarang dari kelas 8G yang tentu disambut dengan baik oleh mereka. Pada sesi pertama, siswa/i di ajak untuk memahami fondasi dasar dari literasi digital dan pengenalan etika digita. Dalam kesempatan ini siswa dibekali pemahaman mengenai pentingnya untuk bijak dalam menggunakan media sosial selaam berinteraksi dalam ruang publik. Selain itu, siswa juga diberikan edukasi agar lebih kritis untuk melakukan pengecekan ulang informasi yang di peroleh secara mandiri. Langkah tersebut diajarkan kepada pelajar guna menanggulangi penyebaran informasi hoax yang marak di internet.

Kemudian, memasuki materi kedua, tim pengabdian Undip melanjutkan dengan memberikan materi terkait ‘Penguatan Literasi Kecerdasan Artificial Intelligence’. Pada kesempatan ini siswa diajak untuk menyadari adanya kehadiran teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari. Tim pengabdian disini mencoba untuk menjelaskan analogi dari cara kerja teknologi AI, seperti ChatGPT dan Gemini ataupun berbagai platform AI lainnya yang mampu mempermudah pekerjaan seseorang. Namun di tahap ini, siswa diperingatkan terkait bahaya AI yang tidak selalu benar dan berpotensi membuat seseorang malas berpikir.

Antusiasme siswa semakin memuncak ketika memasuki sesi diskusi interaktif sebagaimana yang terlampir pada gambar sebelumnya. Salah seorang siswa bernama Carisa Chalondra mengajukan pertanyaan kritis, terkait apakah bahaya jika curhat ke AI?. Menanggapi hal tersebut, tim pengabdian Undip menjelaskan bahwa penggunaan AI untuk curhat sebenernya aman dan bisa membantu seseorang untuk melihat sudut pandang baru, asalkan siswa tetap waspada dan tidak memasukan data pribadi yang sensitif ke dalam ruang obrolan tersebut demi menjaga keamanan privasi di internet.
Melalui program pendampingan masyarakat ini, Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Undip berharap dapat memberikan dampak nyata dalam jangka panjang bagi ekosistem digital, utamanya di lingkungan sekolah. Dari bekal keilmuan manajemen informasi yang dibagikan kepada siswa/i SMPN 21 Semarang ini, setelahnya siswa diharapkan dapat cakap secara teknis tetapi juga memiliki benteng yang kuat dalam menghadapi bahaya informasi hoax. Hal ini selaras dengan slogan yang dibawakan tim pengabdian Undip, yaitu ‘Yuk Jadi Generasi Cerdas Digital!’.


