Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi bersama UPT Perpustakaan dan UNDIP Press menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Bridging the Gap: Kolaborasi Akademisi dan Praktisi dalam Bidang Sains Informasi” pada Kamis, 2 Juli 2026. Forum ini menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi untuk merumuskan arah pengembangan pendidikan Sains Informasi yang semakin relevan dengan kebutuhan profesi di era Artificial Intelligence (AI).
FGD menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Mega Subramaniam dari College of Information, University of Maryland, Amerika Serikat, serta Safirotu Khoir, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada. Diskusi dipandu oleh dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi UNDIP, Zulfa Avidiansyah, S.IIP., M.A., serta diikuti oleh pustakawan UNDIP, dosen Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan D-4 Informasi dan Humas UNDIP, serta perwakilan Universitas Soegijapranata Semarang dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Perkembangan pesat teknologi AI menjadi latar belakang utama penyelenggaraan forum ini. Perubahan tersebut menuntut dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki landasan akademik yang kuat, tetapi juga kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi dan praktisi dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan praktik profesional di lapangan.
Selama diskusi, para narasumber mengajak peserta mengevaluasi relevansi mata kuliah dalam kurikulum Sains Informasi. Pembahasan difokuskan pada identifikasi mata kuliah yang masih sesuai dengan kebutuhan profesi, materi yang perlu diperbarui, serta kompetensi baru yang perlu diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Prof. Mega Subramaniam juga membagikan perspektif global mengenai pengembangan kurikulum sebagai bahan refleksi dalam mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Peserta dari kalangan akademisi dan praktisi turut memberikan berbagai masukan berdasarkan pengalaman masing-masing. Beragam perspektif tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Selain membahas kompetensi teknis, forum ini juga menyoroti pentingnya etika dalam pemanfaatan AI sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan calon pustakawan.
Salah satu usulan yang mengemuka berasal dari delegasi BRIN yang mendorong penguatan materi Research Data Management (RDM) dalam kurikulum. Kompetensi ini dinilai semakin penting untuk mendukung pengelolaan data penelitian sekaligus memperkuat peran pustakawan dalam ekosistem riset.

Melalui diskusi yang berlangsung interaktif, peserta saling bertukar gagasan, pengalaman, serta rekomendasi untuk memperkuat kualitas pendidikan Sains Informasi. Forum ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kurikulum yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mampu menyiapkan pustakawan dan lulusan Sains Informasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.


