Mahasiswa KKNT IDBU 12 UNDIP Kembangkan Media Literasi Bahasa Isyarat Melalui Poster Edukatif dan Video Pembelajaran di Sanggar Batik Sriekandi Patra Desa Tawangsari Boyolali

Sebagai bagian dari upaya untuk mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 12 Universitas Diponegoro meluncurkan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada literasi bahasa isyarat. Program yang diinisiasi oleh Putri Rumaita Sayyi’ah, mahasiswa Program Studi S-1 Ilmu Perpustakaan, ini berfokus pada pengembangan media pembelajaran Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di Sanggar Batik Sriekandi Patra, Desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali.

Gambar 1. Peresmian Pojok Baca Sriekandi Patra

Adanya pelaksanaam program ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi yang menunjukkan bahwa pada Sanggar Batik Sriekandi Patra, memiliki anggota dengan keterbatasan tuna rungu dan tuna wicara. Hal ini kemudian memunculkan kesadaran tentang pentingnya ketersediaan media informasi yang inklusif serta mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas. Sebagai wadah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui seni batik, Sanggar Batik Sriekandi Patra memerlukan sarana pembelajaran yang mampu menunjang komunikasi sekaligus memperkaya sumber belajar komunitas. Melalui pendekatan literasi informasi, program ini menghadirkan media edukatif berbasis visual yang dirancang secara menarik, mudah dipahami, serta dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh anggota sanggar maupun masyarakat umum.

Media yang dikembangkan dalam program literasi bahasa isyarat ini terdiri atas dua poster edukatif Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang disusun berdasarkan kebutuhan komunikasi dasar anggota Sriekandi Patra. Pemilihan sistem bahasa isyarat BISINDO ini didasarkan pada penggunaannya sebagai bahasa isyarat yang umum digunakan oleh anggota Sanggar Batik Sriekandi Patra dalam aktivitas komunikasi sehari-hari dibandingkan dengan sistem Bahasa isyarat SIBI. Penggunaan BISINDO juga diharapkan mampu menghadirkan materi pembelajaran yang lebih kontekstual dan sesuai dengan praktik komunikasi yang telah diterapkan di lingkungan Sriekandi Patra. Pada Poster pertama memuat informasi mengenai pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), meliputi pengertian BISINDO, alasan penggunaan BISINDO sebagai bahasa komunikasi teman tuli di Indonesia, serta materi dasar berupa alfabet dan angka. Penyajian materi tersebut bertujuan memberikan pemahaman awal kepada pengguna mengenai dasar-dasar bahasa isyarat sehingga dapat menjadi langkah awal dalam membangun komunikasi yang lebih inklusif.

Gambar 2. Mading Pojok Baca

Sementara itu, poster kedua berisi kosakata BISINDO yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disajikan meliputi kata tanya, kata ganti orang, serta berbagai ungkapan sederhana seperti salam, sapaan, ucapan terima kasih, permintaan maaf, dan ekspresi dasar lainnya. Penyusunan materi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan komunikasi praktis sehingga dapat langsung diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Sebagai pelengkap media pembelajaran, pada poster kedua juga dilengkapi dengan Quick Response (QR) Code yang terhubung dengan video pembelajaran BISINDO dasar. Video tersebut menampilkan demonstrasi gerakan bahasa isyarat sesuai materi yang terdapat pada poster sehingga pengguna dapat mengamati setiap gerakan secara lebih jelas. Integrasi antara media cetak dan media digital ini memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif serta mendukung proses pembelajaran mandiri melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Kedua poster edukatif ini kemudian dipasang di majalah dinding (mading) pojok baca Sanggar Batik Sriekandi Patra sebagai bagian dari pengembangan media literasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Pemilihan lokasi tersebut bertujuan agar poster tersebut dapat diakses oleh anggota sanggar maupun pengunjung yang datang untuk mengikuti berbagai kegiatan. Keberadaan poster di pojok baca juga mendukung fungsi ruang tersebut sebagai pusat penyebaran informasi dan pembelajaran yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, adanya QR Code juga memungkinkan pengguna memperoleh materi pembelajaran bahasa isyarat kapan saja melalui perangkat digital tanpa bergantung pada kegiatan pelatihan secara langsung.

Gambar 3. Kedua Poster Bahasa Isyarat

Pelaksanaan program ini menunjukkan bahwa bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi memiliki kontribusi yang luas dalam pengembangan media literasi di masyarakat. Kompetensi yang dimiliki mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan koleksi perpustakaan, tetapi juga mencakup kemampuan mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna, merancang media informasi, serta menyebarluaskan informasi dalam bentuk yang mudah dipahami. Pengembangan poster edukatif dan video pembelajaran merupakan salah satu bentuk implementasi prinsip aksesibilitas informasi yang menjadi bagian penting dalam layanan informasi modern. Penyediaan media yang ramah bagi penyandang disabilitas juga sejalan dengan upaya mewujudkan layanan informasi yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Melalui pelaksanaan program ini, diharapkan Sanggar Batik Sriekandi Patra memiliki media pembelajaran bahasa isyarat yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari kegiatan literasi anggota. Keberadaan poster edukatif dan video pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dasar anggota sanggar maupun masyarakat yang ingin mempelajari BISINDO. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Sehingga adanya program ini tidak hanya menghasilkan luaran berupa media pembelajaran, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mendukung terciptanya lingkungan yang lebih inklusif melalui penguatan budaya literasi.

Penulis: Putri Rumaita Sayyi’ah

Bagikan di:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita terkait