Visiting Professor: FIB UNDIP Dorong Peran Pustakawan dalam Kesejahteraan Mental Mahasiswa Melalui Biblioterapi

SEMARANG, 5 Mei 2026 – Dalam upaya memperkuat rekognisi internasional menuju World Class University (WCU), Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan Visiting Professor bertema “Reading for Mental Health: Integrating Bibliotherapy into Library Services”. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Art Center A, Fakultas Ilmu Budaya ini menghadirkan pakar dari Universiti Malaya, Dr. Ranita Hisham Shunmugam.

Kegiatan yang dilatarbelakangi karena meningkatnya tantangan kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Berdasarkan data National Health and Morbidity Survey (NHMS) terbaru, ditemukan bahwa sekitar 4,6% mahasiswa mengalami gejala psikologis berat. Dr. Ranita menekankan bahwa perpustakaan memiliki potensi besar untuk menjadi “ruang penyembuhan” melalui metode biblioterapi yaitu sebuah teknik penggunaan bahan bacaan yang terarah untuk membantu kesejahteraan emosional.

Dalam paparannya, Dr. Ranita menjelaskan tentang biblioterapi yang bukan hanya  sekadar aktivitas membaca biasa, melainkan proses interaktif antara pembaca dan narasi yang dapat membantu individu memahami diri sendiri dan situasi yang mereka hadapi. Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga bisa menjadi ruang yang nyaman dan mendukung kesehatan mental penggunanya melalui pilihan bacaan yang tepat.

Materi yang disampaikan juga membahas berbagai langkah sederhana untuk memulai kebiasaan membaca sebagai bentuk self-healing, seperti memilih bacaan ringan dan meluangkan waktu membaca selama 5-10 menit setiap hari. Selain itu, peserta ikut serta diperkenalkan dengan konsep “Read, Reflect, Reset” sebagai bentuk refleksi diri melalui membaca.

Pada sesi akhir, muncul salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa bernama Ilham, yang menanyakan mengenai batas peran pustakawan dalam mendukung kesehatan mental pengguna melalui layanan dan rekomendasi bacaan. Pertanyaan tersebut membahas bagaimana pustakawan dapat berperan sebagai fasilitator, namun tetap memahami batas profesional sehingga permasalahan yang memerlukan penanganan lebih lanjut perlu diserahkan kepada tenaga profesional psikologi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami bahwa perpustakaan bukan hanya tempat mencari informasi, tetapi juga dapat menjadi ruang yang mendukung kenyamanan dan kesejahteraan emosional penggunanya.

Bagikan di:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Berita terkait