Tawangsari, Boyolali — Suasana peresmian Perpustakaan Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, pada Sabtu (25/7/2026) berlangsung semarak. Tidak hanya menjadi penanda dibukanya ruang baca bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga diisi dengan berbagai aktivitas literasi yang melibatkan anak-anak desa. Salah satunya melalui program “Pohon Literasi” yang digagas oleh Andrini Putri Wardhani, mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Diponegoro (UNDIP) sebagai media untuk mengajak anak-anak lebih dekat dengan buku dan menjadikan kegiatan membaca terasa lebih menyenangkan.

Gambar 1. Peresmian Perpustakaan Desa di Balai Desa Tawangsari
Program bertajuk “Strategi Promosi Perpustakaan melalui Media Visual ‘Pohon Literasi’ untuk Stimulasi Minat Kunjung dan Retensi Membaca Anak” ini hadir dari perhatian mahasiswa terhadap aktivitas promosi perpustakaan yang masih cenderung kurang interaktif. Bagi sebagian anak, perpustakaan masih identik dengan ruang yang tenang dan aktivitas membaca yang monoton. Padahal, Perpustakaan Desa Tawangsari memiliki Pojok Baca yang dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Melalui “Pohon Literasi”, aktivitas membaca tidak hanya berhenti ketika buku ditutup, tetapi juga dapat meninggalkan jejak yang terlihat melalui “buah literasi” yang dibuat oleh anak-anak.


Gambar 2. Membaca 15 menit di Perpustakaan Desa bersama anak-anak
Dalam pelaksanaannya, anak-anak diajak mengikuti kegiatan membaca bersama selama 15 menit. Mereka bebas memilih buku yang menarik perhatian, kemudian menuliskan ringkasan atau hal yang mereka dapatkan dari bacaan pada kertas berbentuk buah. Setelah selesai, hasil tulisan tersebut ditempelkan pada “Pohon Literasi” yang telah dipasang di salah satu dinding perpustakaan. Aktivitas sederhana ini mendapat respons positif dari anak-anak. Mereka terlihat antusias memilih buku, membaca, hingga menuangkan kembali isi bacaan dengan bahasa mereka sendiri. Meski beberapa anak masih membutuhkan pendampingan untuk memahami cara penggunaan media, kegiatan dapat berlangsung dengan lancar. Keterbatasan ruang juga menjadi salah satu kendala karena belum seluruh buah literasi dapat ditempelkan pada pohon.
Gambar 3. Pohon Literasi yang telah ditempelkan buah literasi
Keberadaan “Pohon Literasi” selanjutnya diharapkan dapat menjadi bagian dari aktivitas rutin di Perpustakaan Desa Tawangsari, bukan sekadar dekorasi saat peresmian. Media tersebut ditempatkan secara permanen agar dapat terus digunakan dan berkembang seiring bertambahnya aktivitas membaca anak. Tim KKN-T Literasi IDBU-12 juga merencanakan penambahan “buah literasi” berbentuk apel dan jeruk agar tampilannya semakin menarik dan dapat memancing anak untuk kembali membaca. Bersamaan dengan kegiatan tersebut, peresmian perpustakaan juga diramaikan oleh berbagai program kerja mahasiswa lainnya, seperti pengenalan permainan tradisional, pengenalan koleksi perpustakaan, pojok literasi pajak, hingga mading akuntansi. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Tim KKN-T Literasi IDBU-12 berharap Perpustakaan Desa Tawangsari dapat tumbuh menjadi ruang yang hidup, menyenangkan, dan dekat dengan aktivitas literasi anak-anak di desa.
Penulis: Andrini


