Kegiatan Temu Balik Ilmu Perpustakaan dan Informasi 2026 yang diselenggarakan oleh HMPS Ilmu Perpustakaan dan Informasi menjadi wadah penting bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi dari berbagai angkatan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada para dosen. Dalam kegiatan yang diselenggarakan pada Jumat, 12 Juni 2026 ini mahasiswa tidak hanya mengungkapkan kendala, masukan, serta harapan yang dihadapi selama proses perkuliahan, tetapi juga memperoleh tanggapan dan penjelasan secara langsung dari dosen terkait berbagai isu akademik maupun nonakademik yang disampaikan.

Aspirasi pertama datang dari mahasiswa angkatan 2021, mereka mengungkapkan terkait perubahan nama Program Studi Ilmu Perpustakaan menjadi Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, yang dinilai belum sepenuhnya dilaksanakan dalam administrasi akademik. Sebagian mahasiswa masih menjumpai penggunaan nama lama program studi dalam berbagai dokumen resmi, yang menyebabkan kebingungan dan dianggap tidak sejalan dengan kebijakan yang ada. Menanggapi isu ini, dosen menyatakan bahwa pihak fakultas akan segera menindaklanjuti masalah tersebut. Fakultas berencana untuk menyesuaikan penggunaan nama resmi program studi pada dokumen dan administrasi yang masih menggunakan nama lama agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, evaluasi dan pemantauan akan dilakukan untuk memastikan bahwa penerapan nama program studi yang baru dapat dilaksanakan secara konsisten di seluruh layanan akademik dan administrasi.
Berlanjut pada aspirasi dari mahasiswa angkatan 2022, sejumlah permasalahan lain turut diangkat. Mahasiswa menyampaikan harapan mengenai prosedur bimbingan dan penjadwalan tugas akhir yang dianggap membutuhkan jangka waktu yang cukup lama, mulai dari seminar proposal hingga pelaksanaan sidang skripsi. Situasi ini dirasa menyulitkan mahasiswa dalam merencanakan pencapaian studi tepat waktu serta menyebabkan ketidakpastian dalam perencanaan akademik. Menanggapi hal ini, dosen menjelaskan bahwa proses bimbingan dan penjadwalan tugas akhir memerlukan penyesuaian antara waktu yang dimiliki mahasiswa dan dosen pembimbing. Selain itu, jumlah dosen di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi turut memengaruhi proses tersebut, setiap dosen membimbing sekitar 11-12 mahasiswa yang tidak hanya berasal dari angkatan 2022 saja namun ada dari angkatan 2021, 2020, bahkan 2019. Oleh karena itu, apabila proses bimbingan maupun penjadwalan tugas akhir dinilai berlangsung cukup lama, faktor penyebabnya tidak hanya berasal dari pihak dosen, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi mekanisme akademik yang perlu disesuaikan dengan berbagai pihak terkait. Dosen juga menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi yang baik antara mahasiswa dan dosen pembimbing agar proses bimbingan dapat berjalan lebih efektif.
Masih dari angkatan yang sama, mahasiswa juga menyampaikan aspirasi mengenai beban tugas pada beberapa mata kuliah yang dirasa cukup berat. Mahasiswa menilai bahwa pemberian tugas yang berdekatan pada beberapa mata kuliah menyebabkan kesulitan dalam mengatur waktu dan membagi fokus akademik secara optimal. Menanggapi hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa pelaksanaan seminar proposal pada semester 6 merupakan kebijakan yang diambil berdasarkan evaluasi program studi. Sebelumnya, seminar proposal dilaksanakan pada semester 7 sehingga waktu yang dimiliki mahasiswa untuk melakukan penelitian dan bimbingan menjadi lebih terbatas. Dengan pelaksanaan seminar proposal yang lebih awal, mahasiswa diharapkan memiliki waktu yang lebih panjang untuk menyelesaikan penelitian dan tugas akhir secara optimal.
Selain itu, mahasiswa menyampaikan harapan agar komunikasi akademik antara dosen dan mahasiswa dapat berjalan lebih efektif, khususnya dalam proses bimbingan maupun penyampaian informasi terkait tugas akhir. Menurut mahasiswa, komunikasi yang lebih baik dapat membantu meminimalisir terjadinya miskomunikasi dan kesalahpahaman selama proses akademik berlangsung. Menanggapi hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa setiap dosen memiliki jadwal, kesibukan, dan pola bimbingan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, proses bimbingan tugas akhir tidak dapat sepenuhnya disesuaikan dengan kalender akademik, melainkan lebih bergantung pada progress penelitian dan penyusunan tugas akhir masing-masing mahasiswa. Dosen juga menekankan bahwa kelancaran proses bimbingan merupakan hasil koordinasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing sesuai dengan kondisi yang ada.
Mahasiswa juga mengusulkan agar sistem penjadwalan seminar proposal dan sidang dapat dlaksanakan secara lebih terstruktur dan terkoordinasi. Mahasiswa berharap adanya kepastian jadwal yang lebih jelas sehinga proses persiapan akademik dapat dilakukan dengan lebih optimal. Menanggapi hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa penjadwalan sidang tugas akhir mengikuti jadwal ujian yang telah ditetapkan oleh fakultas. Oleh karena itu, pelaksanaan sidang perlu menyesuaikan dengan ketentuan dan jadwal akademik yang berlaku di tingkat fakultas.
Berlanjut pada aspirasi dari mahasiswa angkatan 2023, mahasiswa menarik perhatian pada penempatan mata kuliah Filsafat Ilmu Perpustakaan dan Informasi di semester 6 yang dianggap kurang tepat. Mereka berpendapat bahwa materi tentang paradigma dan pendekatan penelitian seharusnya dipelajari sebelum mahasiswa mulai menyusun proposal penelitian. Pada semester 6, mahasiswa sudah mulai menentukan metode penelitian untuk tugas akhir, sehingga pemahaman tentang ilmu filsafat dirasa terlambat didapatkan. Menanggapi aspirasi ini, dosen menjelaskan bahwa penempatan mata kuliah di dalam kurikulum tidak bisa dilakukan dengan mudah karena harus melalui proses evaluasi yang menyeluruh. Namun demikian, masukan terkait mata kuliah Filsafat akan diperhatikan dalam evaluasi kurikulum yang akan datang. Mengenai keterlambatan dalam penyampaian materi, dosen menyampaikan bahwa kondisi perkuliahan pada semester tersebut sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan job training dan libur akademik, sehingga beberapa minggu perkuliahan hilang dan harus digantikan dalam waktu yang terbatas.
Selain itu, mahasiswa juga merasa terbebani dengan pelaksanaan proyek dan penyampaian materi yang berlangsung secara bersamaan. Dalam beberapa mata kuliah, proyek dimulai sebelum materi teoritis selesai diberikan, menyebabkan mahasiswa sulit memahami dasar pelaksanaannya. Mereka juga mempertanyakan tentang proses penyusunan proposal penelitian sebelum ditemui oleh dosen pembimbing resmi, karena khawatir akan muncul perbedaan pandangan antara dosen pengampu seminar proposal dan dosen pembimbing yang nantinya ditunjuk. Menanggapi hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa kondisi perkuliahan pada tahun ini memang mengalami beberapa kendala yang berdampak pada pelaksanaan pembelajaran. Mahasiswa baru dapat mengikuti perkuliahan secara penuh pada minggu ketiga hingga keempat semester karena harus melaksanakan job training, sehingga terdapat beberapa pertemuan yang tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu, pelaksanaan perkuliahan juga bertepatan dengan libur Idul Fitri yang menyebabkan berkurangnya waktu pembelajaran sekitar lima minggu. Kondisi tersebut mengakibatkan dosen perlu melakukan penyesuaian dan percepatan penyampaian materi agar capaian pembelajaran tetap dapat terpenuhi sesuai dengan kalender akademik yang berlaku. Dosen juga menjelaskan bahwa pelaksanaan job training pada semester sebelumnya pada dasarnya hanya memperoleh izin selama satu minggu karena adanya penyesuaian kalender akademik universitas. Apabila terdapat mahasiswa yang melaksanakan job training hingga beberapa minggu, jumlahnya relatif sedikit dan mereka tetap diwajibkan memenuhi ketentuan serta mengganti kekurangan jam magang yang telah ditetapkan.
Mahasiswa juga menyotori nilai mata kuliah pada kelas C dan D yang hingga saat ini belum mengalami perbaikan. Dosen menjelaskan bahwa sebelumnya telah disampaikan bahwa perbaikan nilai akan dilakukan setelah pelaksanaan job training selesai. Masukan tersebut akan menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti agar proses perbaikan nilai dapat segera diselesaikan sesuai dengan yang telahg dijanjikan kepada mahasiswa.
Selain itu, mahasiswa menyampaikan terkait penyusunan proposal penelitian sebelum mahasiswa memperoleh dosen pembimbing resmi, dosen menjelaskan bahwa mekanisme tersebut dilakukan untuk membantu mahasiswa mempersiapkan rancangan penelitian lebih awal. Meskipun demikian, dosen memahami kekhawatiran mahasiswa mengenai kemungkinan adanya perbedaan pandangan antara dosen pengampu seminar proposal dan dosen pembimbing yang nantinya ditetapkan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat menyesuaikan dan mendiskusikan kembali arah penelitiannya bersama dosen pembimbing setelah penetapan dilakukan.
Aspirasi lain yang muncul adalah perubahan dalam kurikulum yang mengakibatkan beberapa mata kuliah berpindah semester. Situasi ini dianggap menyulitkan bagi mahasiswa yang tengah mengikuti mata kuliah perbaikan dan berpotensi menghambat pencapaian kelulusan tepat waktu. Selain itu, mahasiswa juga menekankan adanya ketidakcocokan materi pada salah satu mata kuliah, yang lebih fokus pada praktik pemasaran daripada isi yang sesuai dengan nama mata kuliah tersebut. Menanggapi hal tersebut, dosen menyampaikan bahwa aspirasi dan keluhan yang disampaikan mahasiswa akan diteruskan kepada dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan.
Berlanjut pada aspirasi mahasiswa angkatan 2024, menyampaikan harapan mengenai keberlanjutan dosen dalam melaksanakan kesepakatan perkuliahan, terutama yang berkaitan dengan sistem penilaian dan pelaksanaan pembelajaran yang terkadang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Mereka juga mengeluhkan seringnya perubahan jadwal kuliah serta peralihan metode pembelajaran dari luring ke daring yang dilakukan secara mendadak tanpa cukup pemberitahuan. Menanggapi hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa perubahan jadwal dan metode pembelajaran terkadang dilakukan karena kondisi tertentu yang tidak dapat dihindari. Meskipun demikian, dosen akan berupaya menjaga konsistensi terhadap kesepakatan perkuliahan serta menyampaikan informasi perubahan kepada mahasiswa dengan lebih baik.
Mahasiswa berpendapat bahwa sebagian cara pengajaran masih kurang dijelaskan secara jelas, sehingga membuat materi sulit untuk dimengerti. Di beberapa mata kuliah yang bersifat praktik, mereka merasa diberikan tuntutan tugas yang cukup banyak tanpa adanya penjelasan atau pelatihan dasar yang memadai. Selain itu, ada juga keluhan tentang tugas proyek yang harus diselesaikan dalam waktu singkat tanpa petunjuk teknis yang jelas. Mengenai kesulitan dalam memahami materi, dosen mengingatkan bahwa mahasiswa sudah diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi selama proses pembelajaran, sehingga diharapkan mereka lebih aktif memanfaatkan waktu tersebut. Untuk mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif, dosen juga menjelaskan perlunya mengoordinasikan dengan dosen Statistika agar mahasiswa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang SPSS serta teknik analisis statistik yang berkaitan dengan penelitian.
Selain itu, dalam diskusi juga dibahas mengenai mata kuliah Multimedia yang dianggap memiliki ruang lingkup materi yang sangat luas dibandingkan dengan jumlah SKS yang tersedia. Menanggapi hal ini, dosen menjelaskan bahwa cakupan materi yang luas memang menjadi tantangan dalam menjalankan perkuliahan Multimedia. Karena itu, ada batasan dalam penyampaian materi yang perlu disesuaikan dengan waktu kuliah yang ada. Mahasiswa juga mengeluhkan mengenai satu mata kuliah yang sering dibatalkan secara mendadak serta adanya ketidakjelasan dalam pelaksanaan ujian akhir semester. Menanggapi hal ini, pihak program studi menyatakan akan meneruskan aspirasi tersebut kepada dosen terkait untuk mendapatkan tindak lanjut.

Berlanjut pada aspirasi mahasiswa angkatan 2025, mengungkapkan bahwa metode pengajaran di beberapa mata kuliah dirasa terlalu cepat sehingga mereka kesulitan untuk memahami materi dengan baik. Mereka juga mengeluhkan minimnya akses terhadap materi pembelajaran setelah perkuliahan berakhir karena tidak semua bahan presentasi dan materi pendukung disediakan untuk mahasiswa. Mengenai hal tersebut, dosen menjelaskan bahwa referensi dan bahan bacaan biasanya telah diberikan sejak awal perkuliahan. Dosen juga berupaya untuk terus memperbarui materi, khususnya pada mata kuliah Temu Balik Informasi (TBI), dengan mengaitkan konsep Information Retrieval dengan perkembangan generative AI. Mahasiswa diharapkan mempelajari referensi yang diberikan secara mandiri terlebih dahulu, kemudian hasil pembelajaran tersebut digunakan sebagai bahan diskusi selama proses perkuliahan berlangsung.
Mahasiswa menekankan tentang perubahan jadwal kuliah yang terkadang terjadi secara tiba-tiba serta keterlambatan dalam memberikan informasi mengenai pembatalan kelas. Hal ini dirasa cukup merepotkan, apalagi bagi mahasiswa yang harus menempuh jarak jauh untuk menuju kampus. Mereka juga berharap fasilitas belajar seperti akses internet di kampus bisa ditingkatkan agar pembelajaran menjadi lebih nyaman. Mengenai perubahan jadwal kuliah yang berdampak pada proses belajar, dosen menjelaskan bahwa sebagian besar kondisi tersebut disebabkan oleh penyesuaian kalender akademik universitas, yang di luar kendali program studi. Tentang fasilitas internet di kampus yang dinilai tidak memadai, aspirasi ini akan disampaikan kepada pihak terkait untuk dievaluasi.
Mahasiswa juga menyampaikan harapan agar penyampaian materi dilakukan dengan lebih terstruktur dan informasi akademik diberikan lebih awal jika ada perubahan jadwal kuliah. Menanggapi hal tersebut, dosen menyampaikan bahwa mahasiswa tidak perlu ragu untuk menyampaikan apabila terdapat materi yang belum dipahami. Mahasiswa dapat mengangkat tangan dan menginformasikan bagian yang masih membingungkan sehingga dosen dapat menjelaskan kembali materi tersebut dengan lebih rinci dan menyesuaikan kecepatan penyampaian materi di kelas.
Dalam sesi penyampaian aspirasi lainnya, mahasiswa angkatan 2025 berharap dosen dapat lebih cepat dalam menanggapi pesan atau komunikasi akademis. Selain itu, mereka juga menyinggung adanya inkonsisten dalam pelaksanaan kontrak perkuliahan, seperti keterlambatan ujian yang berlangsung lebih lama dari jadwal yang ditentukan.
Dalam sesi tanya jawab dan pemberian tanggapan, muncul keluhan dari mahasiswa angkatan 2023 juga menyampaikan aspirasi terkait penggunaan contoh proposal atau tugas penelitian mahasiswa dalam proses pembelajaran. Mahasiswa berharap identitas pemilik karya disamarkan terlebih dahulu. Menanggapi hal tersebut, dosen menyatakan setuju dan menegaskan bahwa penggunaan karya mahasiswa sebaiknya dilakukan dengan izin pemilik karya serta tetap memperhatikan etika akademik. Selanjutnya, mahasiswa angkatan 2024 menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan perkuliahan pada mata kuliah Kepustakawanan Indonesia. Mahasiswa menilai bahwa perkuliahan beberapa kali dibatalkan atau mengalami perubahan secara mendadak sehingga mengganggu proses pembelajaran. Selain itu, mahasiswa juga mengungkapkan bahwa beberapa tugas diberikan tanpa batas waktu pengumpulan yang jelas. Mahasiswa turut menyoroti pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) yang hingga waktu penyampaian aspirasi belum terlaksana sesuai jadwal yang telah ditentukan. Menanggapi hal tersebut, dosen menyampaikan bahwa masukan dan keluhan mahasiswa akan diteruskan kepada dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan untuk menjadi bahan evaluasi lebih lanjut. Menutup diskusi, dosen turut menyampaikan beberapa harapan kepada mahasiswa terkait pelaksanaan perkuliahan. Dosen mengingatkan pentingnya mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan di awal semester, khususnya mengenai kedisiplinan waktu kehadiran di kelas. Mahasiswa diharapkan dapat hadir tepat waktu dan mematuhi batas toleransi keterlambatan yang telah disepakati bersama agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tertib dan efektif.
Selain itu, dosen juga mengimbau mahasiswa untuk memperhatikan etika komunikasi saat menghubungi dosen melalui media pribadi, seperti WhatsApp. Dosen menyampaikan bahwa masih terdapat mahasiswa yang mengirimkan pesan tanpa mencantumkan identitas yang jelas sehingga menyulitkan dosen untuk mengenali pengirim pesan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan selalu memperkenalkan diri dengan menyertakan nama, angkatan, kelas, serta keperluan yang ingin disampaikan ketika menghubungi dosen. Menutup pembicaraan, dosen juga menyampaikan beberapa harapan kepada mahasiswa mengenai pelaksanaan perkuliahan serta proses belajar di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Pengajar menginginkan agar mahasiswa lebih terlibat aktif dalam kegiatan kuliah, tidak hanya sekadar hadir untuk mencatat kehadiran, tetapi juga mempersiapkan materi sebelum kelas, berani mengemukakan pendapat, serta aktif berpartisipasi dalam diskusi selama pembelajaran.
Selain itu, dosen juga mengingatkan agar mahasiswa memanfaatkan teknologi, terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dengan bijaksana dan bertanggung jawab. AI diharapkan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pengembangan gagasan, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir atau pemahaman mahasiswa terhadap materi kuliah. Mahasiswa diharapkan tetap bertanggung jawab secara akademik terhadap setiap tugas dan karya yang mereka hasilkan.
Dosen juga menekankan pentingnya kemampuan analisis dan berpikir kritis. Mahasiswa diharapkan tidak hanya sekadar menghafal atau menjawab pertanyaan dengan cara yang umum, tetapi mampu memahami, menganalisa, dan mengevaluasi berbagai persoalan dengan lebih mendalam melalui kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, dan menilai informasi dengan kritis. Akhirnya, dosen berharap semua mahasiswa dapat
berpartisipasi dalam menciptakan atmosfer kelas yang aktif, kondusif, dan saling menghargai. Dengan tetap fokus selama perkuliahan dan menghormati proses belajar mengajar, diharapkan kualitas pembelajaran dapat meningkat dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh anggota akademik.
Secara keseluruhan, harapan yang disampaikan oleh dosen menekankan pentingnya partisipasi aktif mahasiswa dalam belajar, penggunaan AI yang bijaksana, penguatan kemampuan berpikir kritis, penerapan etika akademik yang baik, serta terbangunnya suasana kelas yang kondusif sebagai usaha bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi.

Secara umum, harapan yang disampaikan mahasiswa dari berbagai angkatan menunjukkan adanya kebutuhan untuk meningkatkan komunikasi akademik, konsistensi dalam pelaksanaan kuliah, kejelasan materi ajar, serta pengaturan kurikulum dan jadwal akademik yang lebih baik. Program studi dan pengajar menyambut positif berbagai masukan ini dan bertekad menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan layanan akademik di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi.


